Berita

ABDSI – ILO SCORE DAN DAYA SAING UKM/IKM INDONESIA

Usaha kecil menengah / industri kecil menengah (UKM/IKM) merupakan pilar ekonomi Indonesia yang menyumbang signifikan pada Produk Domestik Bruto (PDB) dan berperan dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.

Mengingat besarnya peran UKM/IKM dalam perekonomian Indonesia, maka peningkatan produktivitas dan daya saing menjadi sangat diperlukan. Saat ini, Indonesia masih mengalami permasalahan dengan produktivitas dan daya saing. Daya saing Indonesia merosot dari peringkat ke-37 tahun lalu menjadi peringkat ke-41 tahun ini dari 138 negara. (Kompas, 30 September 2016).

Banyak factor yang mempengaruhi kondisi demikian. Namun, bicara produktivitas dan daya saing bukanlah melulu persoalan factor eksternal (kondisi makro ekonomi, politik, sosial dan kebijakan pemerintah). Meskipun factor ini dapat memiliki dampak yang signifikan, perusahaan tidak dapat mengendalikan mereka. Namun perusahaan memiliki kontrol yang lebih besar pada faktor internal, yang mereka dapat manfaatkan untuk meningkatkan kinerja mereka. Karena itu perlu ada upaya-upaya peningkatan daya saing dengan biaya rendah namun memiliki keuntungan produktivitas yang tinggi.

Dalam upaya mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing UKM/IKM Indonesia, Asosiasi Business Development Service Indonesia (ABDSI) bersinergi dengan International Labour Organization (ILO) dalam  Program Sustaining Competitive and Responsible Enterprises (SCORE) yang di inisiasi oleh ILO.

Program SCORE adalah program pelatihan yang praktis yang mendukung UKM/IKM mengelola perusahaannya untuk melakukan praktik-praktik kerja yang baik yang akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dan kompetisi yang lebih baik. Program ini merupakan program pelatihan aksi yang mengajarkan tentang prosedur-prosedur baru terkait cara untuk meningkatkan produktivitas, mutu produk dan efisiensi produksi sehingga UKM peserta SCORE dapat meningkatkan kualitas dan produktivitasnya, memperbaiki kondisi kerja, dan mengurangi kerusakan lingkungan.

Lebih jauh mengenai Program SCORE, program ini memungkinkan UKM/IKM untuk melakukan perubahan besar dibidang-bidang tertentu seperti kondisi kerja, pengelolaan SDM, lingkungan kerja serta meningkatkan mutu, produktivitas dan daya saing perusahaan.

Ada 5 (lima) modul yang akan diajarkan pada program ini pertama kerjasama di tempat kerja – dasar dalam keberhasilan bisnis.  Modul ini akan membantu menyatukan seluruh pegawai baik pemilik, manajemen, maupun pekerja dalam menentukan target bersama serta melibatkan mereka dalam upaya peningkatan secara berkesinambungan.

Modul kedua, peningkatan kualitas berkesinambungan.  Modul ini akan membantu peserta meningkatkan kinerja perusahaan dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen, mengembangkan budaya jaminan mutu serta mengurangi jumlah barang cacat (defects) secara sistematis.

Modul ketiga, produksi bersih meningkatkan produktivitas. Modul ini membantu peserta meningkatkan produktivitas serta menghemat biaya dengan mengurangi limbah serta menghemat pemakaian energi secara sistematis di perusahaan.

Modul keempat, manajemen sumber daya manusia untuk kerjasama dan usaha yang sukses. Modul ini akan membantu peserta mengembangkan strategi SDM dalam merekrut, memotivasi serta mengembangkan orang-orang yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan yang tepat agar menjadi lebih kompetitif.

Terakhir, modul yang kelima adalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja – sarana untuk produktivitas. Modul ini akan membantu menghapus atau mengurangi berbagai jenis risiko kesehatan dan keselamatan di tempat kerja yang dapat mengakibatkan cidera, pengeluaran ekstra dan penurunan.

Namun, untuk memulai program ini, peserta SCORE harus melalui modul yang pertama dahulu karena modul ini merupakan modul basic. Kenapa demikian? Modul kerjasama di tempat kerja merupkan modul dasar dan yang pertama dari modul-modul yang ada yang menetapkan prinsip-prinsip inti kerjasama di tempat kerja diperlukan dalam membangun dan memelihara bisnis berkelanjutan.

Secara tidak langsung modul ini akan membentuk self productivity  individu yang ada dalam perusahaan. Melalui tim perubahan yang terdiri dari manajamen dan karyawan yang akan dibentuk pada saat implementasi modul pertama ini tiap individu harus bisa mendorong produktivitas dirinya. Ia harus bisa menjadi human driver  yang memiliki self discipline dan self confidence yang kuat melalui peran aktif dalam proyek-proyek perubahan yang direncanakan. Intinya, modul ini mengupayakan pekerja atau karyawan sebagai keunggulan kompetitif perusahaan.

Pendekatan dari program score ini sangat tepat dengan menempatkan sumber daya manusia (human capital) di dalam perusahaan menjadi prioritas utama dalam implementasi program. Hal ini sejalan dengan isi laporan utama The Economist (edisi 8-14 September 2012)  yang menyoroti perlunya  meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (human capital) agar tercipta peningkatan produktivitas.

Setelah implementasi modul pertama, empat modul lainnya akan menjadi modul pendukung yang bertujuan untuk meningkatakan kualitas dan produktivitas, memperbaiki kondisi kerja (SDM, K3 dll), mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan terakhir membuat perusahaan lebih kompetitif di pasar nasional dan global.

Adapun metodologi implementasi program Score ini di mulai dengan penilaian tahap awal (base line asessment) dengan kunjungan ke perusahaan oleh instruktur atau coach untuk menilai kondisi dan mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan fokus area bagian Produksi, Kendali mutu, SDM dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Selanjutnya, Lokakarya 2 (dua) hari di ruang kelas yakni pelatihan interaktif yang melibatkan manajer dari perwakilan manajemen dan karyawan. Pelatihan ini akan menghasilkan rencana aksi yang disusun bersama.

Pasca lokakarya, akan dilanjutkan dengan 3 (tiga) kali kunjungan ke perusahaan. Kunjungan ke masing-masing perusahaan pasca-pelatihan oleh seorang instruktur, untuk membantu perusahaan melaksanakan rencana aksi mereka.

Inilah metodologi implementasi program score yang akan membantu perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saingnya. Pada akhir program, akan dilaksanakan semacam presentasi hasil sebagai evaluasi dari pelaksanaan implementasi program score.

ABDSI sebagai asosiasi lembaga pendamping bisnis terbesar  yang memiliki jaringan korwil di 30 provinsi di Indonesia mulai menjalankan program score ini dengan prioritas utama di jaringan korwil yang dimiliki. Komitmen dukungan dalam implementasi program score bertujuan agar UKM/IKM Indonesia lebih produktif dan berdaya saing sehingga menjadi UKM/IKM camphion di lokal dan global.

Jika Anda tertarik untuk mengikuti program SCORE, silahkan menghubungi Sekretariat DPN ABDSI di email: sekretariat.abdsi@gmail.com atau call/WA di 08587.88888.40

Terpopuler

To Top